-
Showing posts with label Fakta unik dan Informasi menarik. Show all posts
Hubungan Tidur dan Kecantikan
Tidur tampaknya memang masalah
yang sepele, karena Anda toh secara rutin pasti melakukannya. Tapi, tahukah
anda bahwa tidur memiliki manfaat yang besar untuk kecantikan? Hal ini
dikarenakan ketika anda tidur, tubuh serta kulit anda memiliki kesempatan untuk
“mereparasi” bagian-bagiannya yang aus. Sebagai contohnya, proses regenerasi
pada kulit. Pada saat tidur inilah kulit mulai meluruhkan jaringannya yang mati
dan menggantikannya dengan jaringan baru yang segar.
Dulu, orang-orang mengira bahwa
mereka harus tidur delapan jam sehari untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Tapi, menurut penelitian terbaru yang dilakukan oleh William C. Dement Ph. D. dari
Stanford University, Amerika Serikat, ternyata kualitas tidur jauh lebih
penting daripada kuantitas atau lamanya tidur. Tidur nyenyak selama 6 jam
sehari jauh lebih bermanfaat dibandingkan tidur 9 jam tapi penuh gangguan
Disamping itu, kebutuhan
banyaknya tidur tiap orang ternyata berbeda-beda. Tidak semua orang memerlukan
tidur selama 8 jam sehari. Jika anda merasa cukup dengan 5-6 jam tidur dalam
sehari, hal itu tidak menjadi masalah selama anda merasa cukup
Sumber :
Musbikin, Imam. 2010. Ensiklopedi Hasil Penelitian Ilmiah
Terpopuler dan Terpenting. Jakarta :
Diva Press.
Ekspresi Wajah Mempengaruhi Pikiran
Beberapa dari anda mungkin sudah mengetahui bahwa senyum
yang dipaksakan saat sedih bisa membantu mengembalikan keceriaan kita. Tapi,
beberapa waktu lalu, sebuah penelitian yang dimuat dalam Personality and Social
Psychology Bulletin, Vol. 26: 7 mengungkapkan bahwa ekspresi wajah tidak hanya
bisa mengubah emosi, tetapi juga bisa mengubah pikiran anda. Dalam Penelitian
tersebut, sejumlah responden diminta untuk menilai tingkat ketenaran beberapa
selebriti. Ketika diminta mengerutkan dahinya, penilaian mereka dibanding
menurun dibanding ketika wajah mereka dalam ekspresi biasa. Kesimpulannya,
mengerutkan dahi membuat responden lebih skeptis.
Musbikin, Imam. 2010. Ensiklopedi Hasil Penelitian Ilmiah Terpopuler dan Terpenting. Jakarta : Diva Press.
Musbikin, Imam. 2010. Ensiklopedi Hasil Penelitian Ilmiah Terpopuler dan Terpenting. Jakarta : Diva Press.
Kebiasaan Menunda Pekerjaan
Anda sering harus begadang
semalaman mengerjakan tugas untuk diserahkan besoknya, padahal tugas itu
diberikan 2 minggu lalu? Atau Anda sering merasa dikejar-kejar waktu ketika
menulis laporan proyek yang sudah selesai 1 bulan lalu? Kalau iya, Anda tidak
sendirian. Ada banyak orang yang
memiliki pola kerja seperti itu : menunda pekerjaan sampai saat – saat
terakhir. Istilahnya dalam ilmu psikologi adalah prokrastinasi (procrastination)
Tadinya, penunda pekerjaan yang
disebut prokrastinator dianggap lemah dalam hal management atau pengaturan
waktu. Mereka dianggap tidak bisa memilah dengan benar mana hal yang penting
dan harus dikerjakan lebih dulu serta mana yang tak penting. Bahkan ada pula
anggapan bahwa mereka itu pemalas. Tapi menurut Joseph Ferrari, Ph. D.,
profesor psikologi dari DePaul University, chicago, penelitian – penelitian
sikap menunda pada abad ke – 20 menyimpulkan prokrastinasi disebabkan oleh
gangguan kejiwaan dan kepribadian.
Ferrari mengatakan, penunda
kronis biasanya meragukan kemampuan dirinya sendiri dan sangat khawatir
terhadap penilaian orang lain. “Jadi, logika mereka,’kalau saya tak pernah
menyelesaikan pekerjaan saya, orang lain tak mungkin menilai kemampuan saya’,”
kata Ferrari. Menunda pekerjaan juga memungkinkan seorang penunda menemukan
dalih jika pekerjaannya tidak optimal. “Mereka sangat takut diraguka
kemampuannya sehingga memilih menyalahkan hal lain, seperti waktu yang tak
cukup atau terburu-buru mengerjakan ketika hasil kerja mereka tak optimal,”
kata Ferrari lagi.
Kebanyakan penunda secara sengaja
memilih untuk menciptakan situasi yang akan bisa ia salahkan apabila hasil
kerjanya tidak optimal. Dengan begitu, jika da sesuatu yang salah, mereka
berharap orang lain akan menyalahkan situasinya bukan kemampuan mereka.
Contoh menarik mengenai hal ini
diperagakan oleh sebuah penelitian. Dalam penelitian tersebut, peneliti
menemukan bahwa 60% responden yang tergolong penunda kronis mengatakan mereka
memilih bermain permainan video dibanding belajar untuk ujian yang sulit
keesokan harinya. Dengan begitu, ketika nilai ujian mereka jelek, mereka bisa
mengatakan kepada orang lain bahwa ia tidak belajar untuk ujian ( dan bermain
game) sehingga nilainya jelek. Dengan demikian orang akan mengalamatkan nilai ujiannya
yang jelek dengan sikap sembrononya bukan dengan kecerdasannya. Banyak psikolog
termasuk Ferrari yang berpendapat bahwa pola pikir seperti itu berakar dari
cara pengasuhan anak semasa kecil. Berdasarkan penelitiannya, Ferrari menemukan
sebagian penunda kronis memiliki orang tua (terutama ayah) yang bersifat
otoriter. Ia berpendapat sikap para penunda kronis merupakan cerminan
pemberontakan terhadap tuntutan ayah mereka. Sementara para ahli lain
berpendapat bahwa pola asuh otoriter, yaitu ketika orang tua selalu menentukan
apa, kapan, dan bagaimana anaknya mengerjakan sesuatu membuat anak-anak gagal
membentuk inisiatif dan kemampuan membuat perencanaan.
Sekali-sekali menunda pekerjaan,
terutama bila tak menyenangkan, tentu wajar-wajar saja. Tapi, penunda kronis
menunda hampir semua pekerjaannya sampai saat-saat terakhir. Dan itu bisa
berdampak buruk bagi kehidupan kariernya atau dalam bidang-bidang lain.
Misalnya, laporan ang dikerjakan terburu-buru tentu tak akan baik hasilnya.
Penelitian membuktikan hal tersebut, bahwa mahasiswa yang biasa menunda
tugasnya, biasanya mendapat ranking terendah di kelasnya.
Sebuah penelitian lain bahkan
menemukan sebagian besar penunda merasa hidupnya tak bahagia. Penyebabnya
terutama sekali adalah karena mereka sering mengalami kegagalan dalam hampir
semua hal yang ia kerjakan. Selain itu, mereka justru sering merasa tak punya
banyak waktu untuk melakukan hal-hal selain pekerjaannya. Mereka juga sering
merasa dikejar-kejar dan dihantui oleh pekerjaan yang belum ia selesaikan.
Kebanyakan penunda kronis sebenarnya sadar bahwa mereka memiliki pekerjaan yang
belum mereka selesaikan dan cemas apakah mereka dapat menyelesaikan pekerjaan
tersebut tepat waktu. Sayangnya, hal
tersebut tak juga membuat mereka bergerak untuk mengerjakan pekerjaannya lebih
awal.
Sumber :
Musbikin, Imam. 2010. Ensiklopedi Hasil Penelitian Ilmiah
Terpopuler dan Terpenting. Jakarta :
Diva Press.
Peer Counsellor Remaja
Mau jadi sahabat yang baik buat temen kamu? Salah satu caranya harus jadi pendengar yang baik. Jadi pendngar yang baik itu nggak mudah sih. Kita harus tau persis gimana posisi dia saat itu. Apalagi untuk memberi solusi yang terbaik untuknya. Hmm.. terus gimana dong?
Kita harus mahir untuk menjadi "Peer Counsellor Remaja" tentunya. Nah berikut ini hasil pelatihan seminar yang diulas langsung oleh Psikolog sukses, yakni bagaimana menjadi Peer Counsellor remaja yang baik. Ini juga sebagai langkah awal menjadi psikolog yang bijak. Kita akan belajar seakan-akan kita menjadi psikolog yang sedang menangani klien kita. Enjoy it :)
PEER COUNSELLOR REMAJA
( Suatu Pelatihan Optimalisasi Peran Remaja Dalam Menciptakan Remaja Yang Berpotensi, Empatik, Sehat, Berkepribadian Dan Bermanfaat )
I. Latar Belakang Peer Counsellor Remaja.
Perlu diakui dan disadari bahwa beberapa tahun terakhir ini kehidupan remaja / generasi muda cenderung ke pola pergaulan dalam kehidupan yang mengkhawatirkan untuk generasi-genarasi mendatang yang menjadi harapan bangsa.
Hal ini dapat terjadi karena kurangnya kepedulian, perhatian dan kontrol pihak orang tua terhadap putra purtinya dalam pergaulan kehidupan selepas pulang sekolah. Sehingga cukup banyak remaja yang sebenarnya berpotensi menjadi korban pergaulan di luar garis dan norma-norma yang wajar.
Bertitik tolak pada hal tersebut di atas banyak remaja / generasi muda yang mempunyai masalah yang beragam dengan bentuk dan kadarnya yang berfariasi dari yang kecil hingga yang tergolong serius.
Untuk menetralisir permasalahan remaja / generasi muda tersebut perlu adanya kepedulian pihak luar untuk memecahkan dan memberi solusi yang produktif dalam berbagai macam masalah yang terjadi dalam hal ini disebut “Counsellor Remaja” ( Peer Counsellor ).
Jadi dengan hadirnya Counsellor Remaja di harapkan tumbuh Counsellor-counsellor remaja baru yang berbakat dan bersama-sama peduli untuk sharing dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang dihadapi sesama teman yang akhirnya secara bertahap permasalahan tersebut nantinya dapat diatasi dan dapat mengembalikan kondisi remaja / generasi muda yang bermasalah dalam pergaulan kehidupan yang wajar sehingga dapat membentuk dan menciptakan generasi muda harapan bangsa yang potensial dan bermanfaat.
1. Pengertian Konseling.
Konseling adalah suatu seni menolong seseorang dengan melalui suatu proses tahapan tertentu sampai seseorang yang ditolong ( klien ) dapat menyesuaikan diri dan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Hal ini dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:
- Memberi saran
- Diskusi – diskusi teraupetik
- Administrasi dan interpretasi hasil tes
- Bimbingan karir/pekerjaan
2. Karakteristik Seorang Counselor.
- Seorang Counselor harus bijak dan berwibawa,
- Mempunyai identitas
- Menghormati dan menghargai diri sendiri bahwa dirinya memiliki suatu potensi yang tidak dimiliki orang lain.
- Mampu mengenali dan menerima “kekuasaan” diri. Artinya sebagai counselor, kita hanya dapat menerima dan mengatasi permasalahan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
- Terbuka untuk perubahan. Kita harus dapat menjadi seorang counselor yang terbuka dalam penyelesaian masalah agar diperoleh hasil yang sesuai dengan harapan.
- Membangun hidup berdasarkan pilihan–pilihannya sendiri.
- Merasa hidup dan pilihan–pilihannya berorientasi pada kehidupan
- Otentik, tulus, dan jujur
- Humoris
- Membuat kesalahan dan berani mengakuinya
- Hidup di masa kini
- Menghargai kekuatan budaya
- Peduli pada kesejahteraan orang lain
- Sangat terlibat dan mendap[atkan makna dari kehidupannya
- Mampu mengelola batasan – batasan yang sehat
3. Kunci Keberhasilan Seorang Counselor.
- Sebuah proses konseling akan berhasil bila tercipta hubungan yang produktif antara konselor dan klien.
- Hubungan yang produktif adalah hubungan interaktif yang berkembang berdasarkan rasa saling percaya.
- Konselor “bertugas” untuk membimbing klien :
*Menyadari potensi – potensi yang dimilikinya.
*Mempelajari keterbatasan–keterbatasannya untuk mengaktualisasikan potensi – potensinya.
*Membangun (memilih) masa depan yang diharapkan
- Klien bertanggung jawab pada pilihannya sendiri.
4. Etika Dalam Konseling.
- Prinsip dasar : Mendahulukan kebutuhan klien, menghormati klien, dan melakukan praktik dalam batas – batas professional ( kode etik profesi )
- Isu etik terpenting Informed Consent (yaitu memberi informasi kepda klien tentang hal yang akan dilakukan sebelum mendapatkan persetujuan) dan konfidensialitas
- Beberapa isu yang perlu dipertimbangkan : latar belakang kultur budaya klien, proses asesmen dan adanya kemungkinan counselor “berperan ganda” dalam hubungannya dengan klien.
5. Subyek dan Obyek Konseling.
a. Yang menjadi subyek konselling adalah setiap orang yang mempunyai kepedulian untuk mengatasi / menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh seseorang ( klien ) secara sistematis dan professional dalan hal ini ( konselor, psikolog, psikiater, pekerja social dan penolong awam ).
b. Yang menjadi obyek konseling adalah semua orang yang mempunyai masalah yang dapat mengganggu perkembangan kelangsungan hidupnya dan orang tersebut termotivasi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
6. Tujuan Konseling.
Yang menjadi tujuan konselling adalah mengembalikan kondisi seseorang / remaja / generasi muda yang bermasalah dalam pergaulan kehidupan yang wajar sehingga dapat membentuk dan menciptakan generasi muda harapan bangsa yang potensial dan bermanfaat.
7. Proses Konseling
- Tahap 1:
- Tahap 2:
- Tahap 3:
- Tahap 4:
8. Memahami Permasalahan.
Seorang Counsellor sebelum memecahkan masalah yang dihadapi oleh kliennya harus memahami permasalahan yang dihadapi oleh kliennya.
Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan komunikasi dua arah yang produktif dan saling percaya antara counselor dan kliennya sehingga counselor dapat menyimpulkan dan masuk dalam permasalahan yang dihadapi oleh kliennya.
9. Pemecahan Masalah
- Deskripsikan masalah
- Menolong klien memperjelas isu – isu penting yang harus diubahnya.
- Pilihan/Alternatif
- Menolong klien menetapkan hasil yang ingin dicapainya
- Evaluasi pilihan
- Meyakinkan klien atas solusi yang dipilihnya dengan mengevaluasi secara keseluruhan pilihannya tersebut.
- Tetapkan pilihan
- Membantu klien mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan – tujuannya.
- Rencana tindakan
- Membantu klien menerapkan rencana mereka.
10. Langkah-langkah Dalam Pemecahan Masalah.
a. Menolong klien dengan memberi penjelasan tentang isu-isu penting yang harus diubahnya.
b. Menolong klien dengan menetapkan hasil-hasil yang ingin dicapainya.
c. Membantu klien mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan-tujuannya / harapan-harapan klien.
d. Membantu klien dalam menerapkan rencana-rencananya.
11. Penutup.
Dari hasil pelatihan Peer Counsellor untuk remaja pada hari Sabtu, 8 Agustus 2009 di Convention Hall Lt. 4, Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan, Surabaya yang diikuti oleh para remaja tingkat SMP / SMU di Surabaya
Hasil pelatihan ini mudah-mudahan dapat dikembangkan dan di praktekkan di lingkungan masyarakat khususnya kalangan remaja dan dapat tumbuh Counselor-counsellor baru yang berbakat dan produktif yang dapat dikembangkan
Powered by Blogger.


